ALAMAH TARQIM (PUNGTUASI) DAN PROBLEMATIKANYA DALAM
PEMBELAJARAN QAWAID IMLA’ PADA MAHASISWA JURUSAN PBA SEMESTER IV – IAIN SULTAN
AMAI GORONTALO
Miranti
Aripin Rahim
Moh.
Arfandi R. Dotutinggi
Abstrak
Artikel ini
mengkaji tentang problematika mahasiswa jurusan PBA semester IV IAIN Sultan
Amai Gorontalo dalam pembelajaran qawaid imla’ khususnya materi alamah
tarqim atau pungtuasi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui apa saja
problematika mahasiswa jurusan PBA semester IV dalam materi alamah tarqim
atau pungtuasi. Adapun metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif,
dimana penulis mengumpulkan data dengan teknik wawancara dan tes tertulis
mengenai materi alamah tarqim atau pungtuasi tersebut. Teknik analisis
data yang dilakukan oleh penulis yaitu penulis memberikan materi dan latihan
soal berupa tes tertulis tentang alamah tarqim atau pungtuasi. Kemudian
penulis menganalisis hasil data yang dihasilkan dari tes tersebut, dan menarik
kesimpulan terhadap hasil data yang telah dianalisis. Hasil dari pengkajian
terhadap permasalahan dalam artikel ini adalah terdapat beberapa problematika
yang dihadapi oleh mahasiswa jurusan PBA semester IV, baik itu pada faktor
linguistik (penggunaan/peletakkan alamah tarqim yang kurang tepat), maupun pada
faktor non linguistik yaitu mahasiswa itu sendiri, dan materi yang mereka
dapatkan saat proses pembelajaran qawaid imla’.
Kata
Kunci: Alamah Tarqim (Pungtuasi), Problematika, Qawaid Imla’
A. Pendahuluan
Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang
memberikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah
ditetapkan, baik kawasan kognitif, afektif maupun psikomotor.[1]
Dalam pembelajaran,
bahasa Arab memiliki empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak
(maha>rah al-istima>’), keterampilan berbicara (maha>rah
al-kala>m), keterampilan membaca (maha>rah al-qira>’ah),
dan keterampilan menulis (maha>rah al-kita>bah).[2]
Dari keempat maharah tersebut,
maharah al-kitabah dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di
antara jenis-jenis berbahasa lainnya. Karena menulis bukanlah sekedar menyalin
kata-kata dan kalimat-kalimat. Melainkan juga mengembangkan dan menuangkan
pikiran-pikiran dalam suatu stuktur tulisan yang teratur.[3]
Maha>rah al-kita>bah (keterampilan menulis)
merupakan keterampilan dalam bidang kebahasaan yang memerlukan praktik atau
latihan secara rutin. Ditambah lagi menulis dengan bahasa Arab, bagi mahasiswa
non-Arab tentu akan mengalami kesukaran atau kesulitan. Maka dengan demikian,
diperlukan latihan atau praktik secara rutin.
Salah satu bagian
keterampilan menulis adalah imla’. Imla’ mempelajari tentang cara
menulis huruf yang benar.[4]
Dalam
pembelajaran Qawaid al-Imla’, materi-materi yang diajarkan adalah kaidah-kaidah
imla’ yang telah disepakati oleh para pakar bahasa Arab, yang meliputi:
berbagai macam penulisan hamzah, al-washlu dan al-fashlu, ta’ marbuthah
dan maftuhah, alif layyinah, al-ziyadah dan al-hadzf, serta ‘alamah
tarqim.[5]
‘Ala>matu al-tarqi@m (علامة
الترقيم)
dikenal dengan istilah pungtuasi, begitupun sebaliknya. Pungtuasi adalah tanda
baca yang digunakan khusus dalam tulisan.[6]
Dengan adanya tanda baca, maka maksud penulis dan isi bacaan atau tulisan
tersebut dapat mudah dipahami oleh orang lain.
Hatta Raharja
dalam makalah yang berjudul Tanda Baca dalam Bahasa Arab, bahwa:
“Pengertian
pungtuasi bahasa Arab atau علامة الترقيم (‘ala>matu al-tarqi@m) adalah sebuah lambang/simbol khusus
yang ada dalam tulisan guna menunjukkan ‘waktu’ untuk berhenti, melanjutkan,
dan memulai bacaan serta memunculkan intonasi bunyi dari bacaan tersebut
sehingga tujuan-tujuan dalam percakapan didapat ketika membaca.”[7]
Ketika menulis sebuah kalimat, paragraph, atau teks-teks
bacaan, penulis harus memperhatikan tanda baca dan membiasakan diri
menggunakannya dengan benar, begitu pula saat membacanya.[8] Suatu karya
tulis yang baik akan memperhatikan berbagai macam aspek agar menjadikan tulisan
tersebut dapat dipahami. Sebaik apa pun ide dan gagasan tulisan yang dikandung apabila
tidak tersampaikan dengan baik maka ide dan gagasan tersebut tidak akan sampai
kepada tujuannya, bahkan lebih dikhawatirkan apabila ide dan pesan yang
dimaksud justru berubah karena cara penyampaiannya yang tidak sesuai. Untuk menghindari
hal tersebut dan agar dapat menyampaikan maksud dari penulis dengan baik maka
hendaklah tulisan tersebut ditulis dengan baik dan benar, baik dari kelengkapan
huruf, gramatikalnya yang benar, dan juga tidak kalah pentingnya, penggunaan
tanda baca yang tepat. Tanda baca yang tepat pada sebuah tulisan akan sangat
membantu untuk sampainya ide dan gagasan tulisan tersebut. Para pembaca tulisan
tersebut pun akan sangat terbantu dalam memahami tulisan tersebut.
Berdasarkan hasil
wawancara dengan beberapa perwakilan mahasiswa jurusan PBA semester IV
yang pernah menempuh mata kuliah qawaid
al-imla’ wa al-khat di semester II, penulis mendapatkan data bahwa mereka masih
mengalami kesulitan dalam materi yang disampaikan oleh pengajar. Terlebih lagi,
materi yang disampaikan hanya berkisar pada materi al-khat. Dimana mereka diberikan
tugas untuk menuliskan beberapa kata atau kalimat dengan kaidah al-khat itu
sendiri. Sedangkan untuk materi alamah tarqim/pungtuasi, beberapa dari mereka
tidak terlalu mengetahui apa yang dimaksud dengan alamah tarqim/pungtuasi, dan
apa saja macam-macam alamah tarqim/pungtuasi itu. Maka dengan hal ini, penulis
mencoba memberikan materi tentang alamah tarqim/pungtuasi kepada beberapa
perwakilan mahasiswa semester IV tersebut, kemudian akan memberikan uji coba
berupa tes tertulis kepada mereka berdasarkan materi yang telah diberikan
tersebut. Hal ini dilakukan guna mengetahui apa saja problematika mahasiswa
jurusan PBA semester IV dalam pembelajaran qawaid imla’ khususnya pada materi
alamah tarqim/pungtuasi.
Pada artikel
ini akan dijelaskan tentang alamah tarqim/pungtuasi yang lazimnya digunakan
oleh para penulis Arab. Tanda baca yang akan dibahas nanti juga akan
diperlihatkan simbol/lambang yang mewakilinya serta beberapa contoh kalimat
yang disesuaikan dengan tanda baca yang digunakan.
B. Pembahasan
1. Pengertian
‘Alamah Tarqim (Pungtuasi)
Alamah tarqim
terdiri dari dua kata; alamat yang artinya tanda atau mark dan tarqim yang
berarti numerasi dan pungtuasi. Alamah tarqim didefinisikan sebagai
simbol-simbol yang digunakan oleh penulis dalam tulisannya sebagai tanda
memulai, mengakhiri, menghubungkan satu kalimat dengan lainnya, dan membuat
variasi intonasi sesuai tujuan atau isi kalimat yang ditekankan. Tanda baca
biasanya diletakkan disela-sela kata dalam kalimat atau diakhir kalimat dan
alinea.[9]
Dari penjelasan
di atas dapat disimpulkan bahwa ‘ala>matu al-tarqi@m yaitu tanda baca
atau simbol/lambang yang digunakan oleh seorang penulis dalam tulisannya
sebagai tanda untuk memulai, mengakhiri dan menghubungkan satu kalimat yang
lain serta membuat berbagai macam intonasi sesuai tujuan atau isi kalimat yang
ingin disampaikan.
Dalam penulisan
tulisan berbahasa Indonesia banyak menggunakan pungtuasi atau ‘ala>matu
al-tarqi@m. Dalam penulisan bahasa arab secara umum pungtuasi digunakan
pula oleh penulis Arab, ada beberapa pungtuasi dalam bahasa Arab. Berbagai
macam ‘ala>matu al-tarqi@m atau pungtuasi dalam bahasa Arab ada pada
pembahasan berikutnya.
2. Macam-Macam
‘Alamah Tarqim (Pungtuasi)
Berikut adalah
pungtuasi dan tempatnya dalam penulisan:
a. Al-Nuqthah
al-Waqfah (النقطة، الوقفة) /
. /
Tanda baca nuqthah
menggunakan lambang / . / biasa
digunakan untuk berhenti dalam ucapan atau bacaan. Pembicara atau pembaca
berhenti ketika berucap atau membaca dan dibolehkan ketika berhenti agak
panjang. Tanda baca ini juga diletakkan di akhir kalimat yang maknanya telah
jelas dan lengkap. Kalimat yang diakhiri dengan tanda baca titik terbebas dari
kalimat sesudahnya dari segi makna dan i’rab. Contohnya seperti:
- هناك
اختلاف كثيرة بين اللتعليم في الماضي والتععليمم في الحاضر. ومن تلك الاختلافات،
أن فرض التعليم كانت قليلة في الماضي[10]
-
الحكمة ضالة المؤمن. لن
يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها[11]
Al-fa>shilatu
adalah sebuah tanda baca yang menggunakan lambang / ، /, biasa
digunakan untuk berhenti sebentar dalam ucapan atau bacaan. Pembicara atau
pembaca berhenti sangat sebentar ketika berucap atau membaca bahkan dianjurkan
tanpa bernafas. Beberapa letak yang lazim terdapat tanda baca ini di antaranya:
1) Tanda
baca ini diletakan di antara kalimat-kalimat yang dianggap masih berkaitan
makna. Contohnya seperti:
- إمداد
الريف بانور الكهربي يحقق فوائد كثيرة: فهو يساعد على حفظ الأمن، ويرفع مستوى
المعيشة في القرى، ويشجع غلى إنشاء المصانع الريفة
- إن
الطالب خالد قد شفي من مرضة، ودخل الامتحان، وأجاب عن الأسئلة إجابة صحيحة، وله
أمل كبير في النبحاح.
-
رأس الأمر الإسلام، وعموده
الصلاة، وذروة سنامه الجهاد[13]
2) Tanda
baca ini diletakan di antara kata-kata yang berguna untuk menjelaskan macam
atau bagian. Contohnya seperti:
-
ينقسم الكلام إلي ثلاثة
أقسام : اسم, فعل, حرف
3) Tanda
baca ini diletakan di antara kalimat-kalimat sambung sederhana meski
masing-masing kalimat sambung tersebut terdapat kata khusus. Contohnya:
- المعروف
قروض، والأيام دول
4) Tanda
baca ini diletakan di antara kalimat syarthiyyah dan jawabnya serta di
antara kalimat sumpah (qasam) dan jawabnya. Contoh:
- إذا
حضر الماء، بطل التيمم
5) Tanda
baca ini diletakan di antara dua kalimat yang terikat dalam makna lafaz,
kalimat kedua berisi penjelasan sifat atau keadaan atau keterangan tempat atau
keterangan waktu. Contohnya seperti:
- التقيت
بصديقي محمد، وهو يبتسم
6) Tanda
baca ini diletakkan setelah kata panggil. Seperti pada contoh berikut ini:
-
يا عبد الله، تعلم بالجد
والاجتهاد
c. Al-Fa>shilatu
al-Manqu>thah (الفاصلة
المنقوطة) /؛/
Al-Fâsilatu al-Manqûtatu/ adalah
sebuah tanda baca yang menggunakan lambang /؛/, biasa digunakan untuk
berhenti dalam ucapan atau bacaan. Pembicara atau pembaca berhenti ketika
berucap atau membaca dan dibolehkan
ketika berhenti sambil bernafas.[14]
Al-fa>shilatu
al-manqu>thah digunakan
atau diletakkan:[15]
1)
Dua kalimat, dimana kalimat
pertama menjadi akibat dari kalimat kedua. Contohnya:
- نجح
عمر وحصل على أعلى التقديرات؛ لأنه لم يتهاون فلى حصور المحاضرات.
2)
Dua kalimat dimana kalimat kedua
merupakan sebab bagi yang pertama, seperti:
- يبذل
محمد جهدا كبيرا في عمله؛ فلا غرابة أن يحظي عجاب رئيسه
3) Beberapa
kalimat panjang yang masing-masing terdiri dari kalimat sempurna, tujuannya
adalah agar pembaca dapat mengambil napas di antara kalimat dan menghindari
bias di antara kalimat itu, contohnya:
- إن
الناس لا ينظرون إلى الزمن الذي عمل فيه العمل؛ وإنما ينظرون إلى مقدار جودته
وإتقانه
d. Al-Nuqthata>ni(النقطتان) / : /
Tanda
baca al-nuqthata>ni ini memiliki lambang / : /. Tanda baca
ini dituliskan pada beberapa tempat, di antaranya:[16]
1) Dituliskan
setelah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Contoh pada
kalimat-kalimat di bawah ini:
- حسن
: يا إسماعيل من هي ؟
- إسماعيل
: هي سيدة أمنة.
2) Dituliskan
di akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Seperti:
- الجزاء
الجملة هي: اسم، وفعل، وحرف
3) Dituliskan
di akhir suatu pernyataan untuk menjelaskan kalimat sebelum tanda tersebut.
Contoh:
- المنهج
هو: الطريق الواضحة، والخطة المرسومة
4) Dituliskan
di akhir kalimat untuk menjelaskan kaidah atau hukum, dan lain-lain. Contoh
pada kalimat:
- الترقيم:
وضع رموز مخصصة أثناء الكتابة، بغرض تعيين مواضع الفصل والوقف والإبتداء، وأنواع
النبرات الصوتية، والأغراض الكلامية أثناء القراءة
Tanda ini menunjukkan kalimat yang dibuang. Bagian kalimat yang
dibuang bisa pada bagian awal atau bagian tengah atau bagian akhir kalimat. Contoh penggunaan tanda baca ini
pada awal dan akhir kalimat adalah seperi di bawah ini:
-
… ثم فحصة وقال له: إن الألم الذي تشعره سببه البرد، وسيزول إنشاء
الله بعد أن تتناول الدواء الذي سأكتبه …
Adapun contoh penggunaan tanda baca ini di tengah kalimat, seperti:
- لو
اقتصر الناس على كتب القدماء لضاع علم كثير، ولذهب أدب غزير، ولضلت أفهام ثاقبة …
ولمجّت الأسماع كل مردد مكرر.
Tanda baca ‘ala>matu
al-istifha>m memiliki lambang /؟/. Tanda baca ini
lazimnya digunakan untuk kalimat tanya, baik kalimat tersebut diawali oleh kata
tanya atau tidak. Contohnya:
-
هل ذاكرت
دروسك؟
-
قال الله
تعالى: ﴿فلما جنّ عليه الليل رأى كوكبا قال: هذا ربي؟﴾
Tanda baca ini digunakan atau
diletakkan setelahh kalimat yang mengandung arti seruan, kekaguman, keheranan,
kegelisahan, larangan, peringatan, dan do’a. Contohnya:
-
ما أحسن خلق
محمدا !
h.
‘Ala>matu
al-Tasawi علامة التساوي /=/
Tanda baca ini digunakan atau
diletakkan di antara kata yang bersinonim, seperti:
-
جاسر= جوع و
بكاء
i.
Al-Syarthata>n
الشرطتان /- -/
Tanda baca ini digunakan atau
diletakkan diantara kalimat sisipan. Contoh:
-
قررت الجنة
الامتحا ـ بناء على ما تخوّله لها اللأئحة ـ تعريض الطلبة بدرجتين فقط في مادّتين .
j.
‘Ala>mat
al-Muma>tsalah علامة المماثلة /"/
Tanda baca al-muma>tsalah
ini digunakan atau diletakkan untuk mengisyaratkan adanya kesamaan kata dengan
kata-kata yang ada pada baris di atasnya. Contohnya:
-
أبو فراس
الحمداني، شاعر عباسي، ، عرف بعشر الفروسية
-
المتنبي،
" " " " " " "
k. ‘Ala>mat Ma>ilah/ al-Syarthah al-Ma>ilah علامة المائلة
أو الشرطة مائلة / / /
Tanda baca ini digunakan atau
diletakkan:
1)
Setelah penulisan gelar, sebutan,
jabatan atau kedudukan seseorang. Contohnya:
-
الأستاذ
الدكتور/ محمد أحمد سليم. أ. د . / ابن رواندي
2)
Diantara penyebutan tanggal, bulan
dan tahun dalam bentuk angka, seperti:
-
جاكر،
06/06/78
Al-Syarthah ini memiliki
lambang /-/, biasanya tanda baca ini diletakkan:
1) Diantara
kata bilangan dan kata bendanya dan yang menunjukkan urutan jika diletakkan di
awal baris. Contohnya:
أنواع الخير في اللغة العربية ثلاثة:
أولا- مفرد، نحو: الشمس طالعة.
ثانيا- جملة، نحو: الطلب خلقه حسن، وخالد يكتب الرسالة.
ثالثا- شبه جملة، نحو: الطالبة في المكتبة، و العصفور فوق
الشجرة
2) Setelah
angka atau subbab tertentu, seperti:
يلتخص مما سبق
أمور تتعلق لنية هي ما تي.
أ-
حقيقتها
ب- حكمها
ج-
المقصود بها
د-
شرطها
ه-
محلها
و-
صفتها
3) Sebagai
kata ganti (قال) dalam suatu dialog, seperti:
التقى هشام
بصديقة خالد، وقال له: كيف حالك؟
-
بخير والحمد لله.
- متى
عدت منسفرك؟
m. Al-Qawsa>ni (القوسان) / ( ) /
Al-Qawsa>ni/
ini memiliki lambang “( )”. Tanda baca ini diletakkan di dalam kata penjelas
dari kata sebelumnya yang tidak ada kaitannya dengan isi tulisan secara keseluruhan.
Contohnya adalah:
مكة (شرفها الله ) مهوي أفئد المسلمين.
Tanda baca ini digunakan
untukk menunjukkan adanya sejenak baik dalam prosa maupun puisi. Contoh:
ولما
كان هذا ممكنا . . فقد قررنا أن نخوض التجربة
o. Alamat
al-Tanshi@sh al-Tadhbi@b (علامتا
التنصيص أو التضبيب) /" "/
Tanda baca ini digunakan atau
diletakkan:
1)
Diantara kutipan langsung sesuai dengan teks
aslinya tanpa ada perubahan. Contohnya:
يرى
طه حسين أن "الكثيرة المطلقة مما نسميه أد جاهليا ليس من الجاهلية في
شيئ"
2)
Untuk mengapit judul buku atau kata tertentu,
seperti:
هذا القول
منقول بنصه من كتاب "في الأدب الجاهلي"
p. Al-Qaus
al-Mustaqi@m/al-Ma’qu>f (القوس
المستقيم أو المعقوف) /[ ]/
Tanda baca ini digunakan atau
diletakkan diantar kata atau kalimat yang ditambahkan kepada teks yang dikutip,
seperti:
قال أبوو
العلاء المعري: " هذا جناه أبي علي [مع أن الجناة كثيرون] وما جنيت على
أحد"
q. Al-Qusa>n
al-Muzakhrafa>n
(القوسان
المزخرفان) /( )/
Tanda baca al-qaus
al-mustaqi@m/al-ma’qu>f digunakan atau diletakkan:
1)
Diantara nama surat dan ayat al-Qur’an yang
dikutip. Contohnya:
قل
هو الله أحد. الله الصمد. لم يلد و لم يولد. ولم يكن له كفوا أحد. (سورة الإخلاص:
1-4)
2)
Untuk mengapit ayat yang dikutip dan diletakkan
dalam teks, seperti:
وقد امتدح تعالى المتطهرين، فقال: (إن يجب التوابين ويجب المتطهرين)
r.
Al-Niqa>th al-Tsala>ts
al-Mahshu>rah bi Qausin (النقاط
الثلاث المحصورة بقوسين) /(…)/
Tanda baca al-niqa>th
al-tsala>ts al-mahshu>rah bi qausin ini digunakan untuk menunjukkan
bahwa ada sebagian kata dalam kalimat yang dikutip itu dibuang atau hilang
(tidak jelas, misalnya dalam karya suntingan atau tahqiq sebuah
manuskrip kuno) dengan alasan bahwa penulis tidak memandang penting penyebutan
bagian yang hilang atau dihilangkan. Contohnya:
"وأهدي إليها مرة زجاجة
من العطر الثمين، وكتب معها": زجاجة العطر، اذهبي إليها، وتعطري بمس يديها،
وكونى رسالة قلبي لديها، وها أنذا أنثر القبلات على جوانبك (. . .)
3. Problematika
Mahasiswa Jurusan PBA Semester IV dalam Pembelajaran Qawaid al-Imla’ (Alamah Tarqim)
Problematika adalah unit-unit
dan pola-pola yang menunjukkan perbedaan struktur antar satu bahasa dengan
bahasa yang lain. Problema dalam pembelajaran bahasa Arab merupakan suatu
faktor yang bisa menghalangi dan memperlambat pelaksanaan proses belajar
mengajar dalam bidang studi bahasa Arab.[22]
Secara
garis besarnya problematika pengajaran bahasa Arab bagi peserta didik di
Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu: problematika linguistik dan problematika
non linguistik.[23]
a. Faktor Linguistik
1) Sistem
Tata Bunyi (Phonologi)
Sistem
tata bunyi bahasa Arab disebut ilmu tajwid al-Qur’an, yaitu dengan mempelajari “makha>riju
al-huru>f”.
2) Tata
Bahasa (Nahwu dan Sharaf)
Tata
bahasa dalam bahasa Arab disebut ilmu nahwu dan sharaf, sangat penting perannya
jika ingin memahami tulisan yang berbahasa Arab.
3) Perbendaharaan
Kata (Mufradat/Vocabulary)
Perbendaharaan
kata dalam bahasa Arab banyak diperoleh dengan cara mencari pemecahannya (musytaqqa>t),
yang hal ini jarang dijumpai dalam bahasa ibu/Nasional.
4) Susunan
Kata (Uslub)
Susunan
kata antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia adalah berbeda dalam peletakan
subyek, predukat, dan obyek.
5) Tulisan
(Imla’)
Tulisan
bahasa Arab dari kanan ke kiri, itulah yang membedakan bahasa Arab dengan
bahasa lain sekaligus sebagai problem linguistik yang perlu solusinya.
Dalam artikel ini, penulis
memfokuskan problematika mahasiswa jurusan PBA semester IV dalam
pembelajaran qawaid imla’ yaitu tentang ‘alamah tarqim.
b. Faktor
Non Linguistik
Adapun
faktor non linguistik adalah problematika yang muncul diluar zat bahasa itu
sendiri, hal ini bisa dilihat dari beberapa unsur, diantaranya:
1) Guru
atau pengajar yang kurang memiliki kompetensi sebagai pengajar bahasa Arab,
baik kompetensi pedagogik, professional, personal atau sosial.
2) Peserta
didik atau mahasiswa yang tidak mempunyai motivasi kuat dalam pembelajaran
bahasa Arab, latar belakang peserta didik atau mahasiswa dalam pemahaman bahasa
Arab.
3) Materi
ajar yang kurang relevan lagi dengan kebutuhan yang ada bagi peserta didik atau
mahasiswa.
4) Sarana
dan prasarana yang kurang memadai dan mendukung dalam proses pembelajaran
bahasa Arab.[24]
Untuk mengetahui problematika Mahasiswa
Jurusan PBA Semester IV dalam Pembelajaran
Qawaid al-Imla’ (Alamah Tarqim), penulis mencoba untuk memberikan tes tertulis
kepada beberapa perwakilan mahasiswa semester IV. Dari hasil tes tertulis
tersebut, penulis menemukan beberapa kesalahan mahasiswa dalam menempatkan
alamah tarqim/tanda baca dengan tepat.
Adapun rincian
hasil tes tertulis tersebut sebagai berikut:
|
No.
|
Kesalahan
|
Koreksi
|
|
1.
|
العمل نعمة من
نعم الله. ولا يعرف …..
|
العمل نعمة من
نعم الله، ولا يعرف …..
|
|
2.
|
ولا يعرف هذه
النعمة إلا من فقدها بسبب مرض أو غيره، ومع ذلك.
…….
|
ولا يعرف هذه
النعمة، إلا من فقدها بسبب مرض، أو غيره. ومع ذلك
…..
|
|
3.
|
قال الرسول ﷺ
: ما أكل أحد طعاما قط خير من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود كان
يأكل من عمل يده،
|
قال الرسول ﷺ
: "ما أكل أحد طعاما قط خير من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله
داود كان يأكل من عمل يده"
|
|
4.
|
وقال لأصحابه؛
من يشتري هذين فقام رجل،
|
وقال لأصحابه:
من يشتري هذين؟ فقام رجل،
|
|
5.
|
فقال من يزد على درهم،
فقام رجل آخر.
|
فقال: من يزد
على درهم؟ فقام رجل آخر،
|
Kesalahan yang pertama adalah setelah
kalimat من نعم الله
menggunakan
tanda baca al-nuqthah (.), akan tetapi tanda baca yang lebih tepatt
digunakan setelah kalimat tersebut adalah tanda baca al-fa>shilah (،). Karena
kalimat tersebut masih dianggap berkaitan makna dengan kalimat-kalimat
berikutnya. Hal ini berdasarkan pada bahasan ‘ala>matu al-fashilah
bahwa tanda baca ini diletakkan diantara kalimat-kalimat yang dianggap
berkaitan makan.
Kesalahan
berikutnya masih serupa dengan kesalahan yang pertama yaitu perihal penempatan
tanda baca al-fa>shilah dalam kalimat. Selain itu, setelah kata أو غيره tanda
baca yang tepat digunakan adalah al-nuqthah (.). Karena kata أو غيره merupakan
bagian akhir dari kalimat yang sempurna sebelumnya. Hal ini berdasarkan pada
bahasan ‘ala>matu al-nuqthah.
Setalah
tanda baca al-nuqthata>ni (:) dan setelah kalimat terakhir yaitu من عمل يده lebih tepatnya diletakkan tanda kutip atau tanda baca al-tanshi@sh
al-tadhbi@b (“
“). Karena
kalimat tersebut merupakan kalimat Rasulullah saw. yang dikutip langsung dengan
teks aslinya tanpa ada perubahan. Hal ini berdasarkan pada bahasan
penggunaan/peletakkan‘ala>matu al-tanshi@sh al-tadhbi@b.
Kesalahan
berikutnya yaitu setelah kata من يشتري هذين lebih
tepatnya menggunakan tanda tanya (؟) atau ‘ala>matu
al-istifha>m.
Karena kalimat tersebut diawali oleh kata tanya yaitu من.
Hal ini berdasarkan bahasan‘ala>matu al-istifha>m bahwa tanda baca
tersebut digunakan untuk kalimat tanya, baik kalimat tersebut diawali
oleh kata tanya atau tidak.
Dari
beberapa kesalahan dan hasil data pendukung lainnya mengenai permasalahan dalam
artikel ini, dapat disimpulkan bahwa problematika mahasiswa jurusan PBA
semester IV IAIN Sultan Amai Gorontalo dalam pembelajaran qawaid imla’
khususnya ‘alamah tarqim atau pungtuasi adalah dari segi latar belakang
mahasiswa itu sendiri dalam memahami pembelajaran tersebut, materi yang
diajarkan hanya berkisar tentang al-khat, dan kesalahan dalam meletakkan atau
menggunakan ‘alamah tarqim dalam suatu kalimat dengan kurang tepat,
seperti (.), (،), (؟), (:) dan lain-lain.
C. Kesimpulan
1. ‘Alamah
tarqim atau pungtuasi adalah tanda atau simbol yang digunakan dalam bahasa Arab
untuk memulai, mengakhiri dan menghubungkan satu kalimat yang lain serta
membuat berbagai macam intonasi sesuai tujuan atau isi kalimat yang ingin
disampaikan.
2. Macam-macam
‘alamah tarqim atau pungtuasi dalam bahasa Arab terdiri dari kurang
lebih delapan belas macam. Setiap ‘alamah tarqim tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda
dan model tanda baca yang bervariasi.
3. Problematika
mahasiswa
jurusan PBA semester IV IAIN Sultan Amai Gorontalo dalam pembelajaran qawaid
imla’ khususnya ‘alamah tarqim atau pungtuasi yaitu dari faktor non linguistik
(mahasiswa itu sendiri, materi yang diajarkan), dan faktor linguistik
(penggunaan atau peletakkan ‘alamah tarqim dalam suatu kalimat yang
kurang tepat seperti (.), (،), (؟), (:), dan lain-lain).
D. Daftar
Pustaka
al-Mubarokah,
Zakiyatunnisa. “Pembelajaran Maharah al-Qira’ah wa al-Kitabah”. Tesis,
Yogyakarta (2016).
Choiril
Wafa, Ahris. “Problematika Pembelajaran Maharoh al-Kitabah Siswa Kelas X MAN
Tempel Sleman Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014”. Skripsi,
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, (2014).
Hastang, Hastang. "Upaya Optimalisasi
Maharah Kitabah Melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek pada Materi al-Jumlah." Didaktika:
Jurnal Kependidikan 12.1 (2019).
Hidayat, Nandang Sarip. "Problematika
Pembelajaran Bahasa Arab." An-Nida' 37.1 (2012).
Hula, Ibnu Rawandhy N. Qawaid al-Imla
wa al-Khat: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi.
IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
Iskandarwassid
dan Dadang Sunendar. “Strategi
Pembelajaran Bahasa”. Cet.
IV; Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2013.
Jauhari, H. Qomi Akit. "Pembelajaran
Qowaid al-Imlak di Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang." Prosiding Konfererensi Nasional Bahasa Arab 1.1
(2015).
Munjiah, Ma'rifatul. "Kaidah-Kaidah Imla':
Teori dan Praktik." (2012).
Raharja, Hatta. "Tanda Baca Dalam Bahasa
Arab." Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) 2.2
(2014).
Rahmi, Novita. "Pengembangan Materi
Qawa’id Imla’Sebagai Penunjang Mata Kuliah Kitabah I (Studi pada Mahasiswa
Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah IAIN Metro)." An Nabighoh: Jurnal
Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Arab 20.01 (2018).
[1]Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, “Strategi Pembelajaran Bahasa”, (Cet. IV; Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2013), h. 222.
[2]Zakiyatunnisa al-Mubarokah, “Pembelajaran
Maharah al-Qira’ah wa al-Kitabah”, (Tesis, Yogyakarta, 2016), h. 2.
[3]Hastang, "Upaya
Optimalisasi Maharah Kitabah Melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek pada
Materi al-Jumlah", (Didaktika: Jurnal Kependidikan, Vol. 12 (1),
2019), h. 63.
[4]Novita Rahmi, “Pengembangan Materi Qawa’id al
Imla’ Sebagai Penunjang Mata Kuliah Kitabah I (Studi pada Mahasiswa Jurusan PBA
Fakultas Tarbiyah IAIN Metro)”, (Jurnal an-Nabighoh, Vol. 20 (01), 2018), h. 2.
[5]H. Qomi Akit Jauhari, “Pembelajaran Qowaid al-Imlak di Jurusan Pendidikan Bahasa
Arab (PBA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang”, (Prosiding Konfererensi Nasional Bahasa
Arab, (1), 1, 2015), h.
323.
[6]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”,
(Jurnal Alfaz, Vol. 2 (1), Januari-Juni 2014), hal. 170.
[7]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”,
hal. 171.
[8]Ma’rifah
Munjiah, “Kaidah-Kaidah Imla’ Teori & Praktik”, (Malang: UIN-Maling Press, 2012), h. 154.
[9]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa
al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, (Cet. I;
Gorontalo: Sultan Amai Press, Agustus 2015), h. 52-53.
[10]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”,
h. 174.
[11]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa
al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 55.
[12]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”,
h. 171-172.
[13]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa
al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 56.
[14]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”,
h. 173.
[15]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa
al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 57.
[16]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”,
h. 174-175.
[17]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”,
h. 179-180.
[18]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”,
h. 181.
[19]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa
al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 59.
[20]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa
al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 58.
[21]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa
al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 60-62.
[22]Nandang Sarip Hidayat, “Problematika
Pembelajaran Bahasa Arab”, (Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 37 (1),
Januari-Juni 2012), h. 84.
[23]Ahris Choiril Wafa, “Problematika Pembelajaran
Maharoh al-Kitabah Siswa Kelas X MAN Tempel Sleman Yogyakarta Tahun Ajaran
2013/2014”, (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2014), h. 9-12.