Minggu, 10 Mei 2020

Alamah Tarqim (Pungtuasi) dan Problematikanya dalam Pembelajaran Qawaid Imla' pada Mahasiswa Jurusan PBA Semester IV-IAIN Sultan Amai Gorontalo



ALAMAH TARQIM (PUNGTUASI) DAN PROBLEMATIKANYA DALAM PEMBELAJARAN QAWAID IMLA’ PADA MAHASISWA JURUSAN PBA SEMESTER IV – IAIN SULTAN AMAI GORONTALO
Miranti Aripin Rahim
Moh. Arfandi R. Dotutinggi
Abstrak
Artikel ini mengkaji tentang problematika mahasiswa jurusan PBA semester IV IAIN Sultan Amai Gorontalo dalam pembelajaran qawaid imla’ khususnya materi alamah tarqim atau pungtuasi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui apa saja problematika mahasiswa jurusan PBA semester IV dalam materi alamah tarqim atau pungtuasi. Adapun metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dimana penulis mengumpulkan data dengan teknik wawancara dan tes tertulis mengenai materi alamah tarqim atau pungtuasi tersebut. Teknik analisis data yang dilakukan oleh penulis yaitu penulis memberikan materi dan latihan soal berupa tes tertulis tentang alamah tarqim atau pungtuasi. Kemudian penulis menganalisis hasil data yang dihasilkan dari tes tersebut, dan menarik kesimpulan terhadap hasil data yang telah dianalisis. Hasil dari pengkajian terhadap permasalahan dalam artikel ini adalah terdapat beberapa problematika yang dihadapi oleh mahasiswa jurusan PBA semester IV, baik itu pada faktor linguistik (penggunaan/peletakkan alamah tarqim yang kurang tepat), maupun pada faktor non linguistik yaitu mahasiswa itu sendiri, dan materi yang mereka dapatkan saat proses pembelajaran qawaid imla’.
Kata Kunci: Alamah Tarqim (Pungtuasi), Problematika, Qawaid Imla’
A. Pendahuluan
Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang memberikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan, baik kawasan kognitif, afektif maupun psikomotor.[1] Dalam pembelajaran, bahasa Arab memiliki empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak (maha>rah al-istima>’), keterampilan berbicara (maha>rah al-kala>m), keterampilan membaca (maha>rah al-qira>’ah), dan keterampilan menulis (maha>rah al-kita>bah).[2]
Dari keempat maharah tersebut, maharah al-kitabah dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenis-jenis berbahasa lainnya. Karena menulis bukanlah sekedar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat. Melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu stuktur tulisan yang teratur.[3]
Maha>rah al-kita>bah (keterampilan menulis) merupakan keterampilan dalam bidang kebahasaan yang memerlukan praktik atau latihan secara rutin. Ditambah lagi menulis dengan bahasa Arab, bagi mahasiswa non-Arab tentu akan mengalami kesukaran atau kesulitan. Maka dengan demikian, diperlukan latihan atau praktik secara rutin.
Salah satu bagian keterampilan menulis adalah imla’. Imla’ mempelajari tentang cara menulis huruf yang benar.[4] Dalam pembelajaran Qawaid al-Imla’, materi-materi yang diajarkan adalah kaidah-kaidah imla’ yang telah disepakati oleh para pakar bahasa Arab, yang meliputi: berbagai macam penulisan hamzah, al-washlu dan al-fashlu, ta’ marbuthah dan maftuhah, alif layyinah, al-ziyadah dan al-hadzf, serta ‘alamah tarqim.[5]
‘Ala>matu al-tarqi@m (علامة الترقيم) dikenal dengan istilah pungtuasi, begitupun sebaliknya. Pungtuasi adalah tanda baca yang digunakan khusus dalam tulisan.[6] Dengan adanya tanda baca, maka maksud penulis dan isi bacaan atau tulisan tersebut dapat mudah dipahami oleh orang lain.
Hatta Raharja dalam makalah yang berjudul Tanda Baca dalam Bahasa Arab, bahwa:
“Pengertian pungtuasi bahasa Arab atau علامة الترقيم (‘ala>matu al-tarqi@m) adalah sebuah lambang/simbol khusus yang ada dalam tulisan guna menunjukkan ‘waktu’ untuk berhenti, melanjutkan, dan memulai bacaan serta memunculkan intonasi bunyi dari bacaan tersebut sehingga tujuan-tujuan dalam percakapan didapat ketika membaca.”[7]
Ketika menulis sebuah kalimat, paragraph, atau teks-teks bacaan, penulis harus memperhatikan tanda baca dan membiasakan diri menggunakannya dengan benar, begitu pula saat membacanya.[8] Suatu karya tulis yang baik akan memperhatikan berbagai macam aspek agar menjadikan tulisan tersebut dapat dipahami. Sebaik apa pun ide dan gagasan tulisan yang dikandung apabila tidak tersampaikan dengan baik maka ide dan gagasan tersebut tidak akan sampai kepada tujuannya, bahkan lebih dikhawatirkan apabila ide dan pesan yang dimaksud justru berubah karena cara penyampaiannya yang tidak sesuai. Untuk menghindari hal tersebut dan agar dapat menyampaikan maksud dari penulis dengan baik maka hendaklah tulisan tersebut ditulis dengan baik dan benar, baik dari kelengkapan huruf, gramatikalnya yang benar, dan juga tidak kalah pentingnya, penggunaan tanda baca yang tepat. Tanda baca yang tepat pada sebuah tulisan akan sangat membantu untuk sampainya ide dan gagasan tulisan tersebut. Para pembaca tulisan tersebut pun akan sangat terbantu dalam memahami tulisan tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa perwakilan mahasiswa jurusan PBA semester IV yang  pernah menempuh mata kuliah qawaid al-imla’ wa al-khat di semester II, penulis mendapatkan data bahwa mereka masih mengalami kesulitan dalam materi yang disampaikan oleh pengajar. Terlebih lagi, materi yang disampaikan hanya berkisar pada materi al-khat. Dimana mereka diberikan tugas untuk menuliskan beberapa kata atau kalimat dengan kaidah al-khat itu sendiri. Sedangkan untuk materi alamah tarqim/pungtuasi, beberapa dari mereka tidak terlalu mengetahui apa yang dimaksud dengan alamah tarqim/pungtuasi, dan apa saja macam-macam alamah tarqim/pungtuasi itu. Maka dengan hal ini, penulis mencoba memberikan materi tentang alamah tarqim/pungtuasi kepada beberapa perwakilan mahasiswa semester IV tersebut, kemudian akan memberikan uji coba berupa tes tertulis kepada mereka berdasarkan materi yang telah diberikan tersebut. Hal ini dilakukan guna mengetahui apa saja problematika mahasiswa jurusan PBA semester IV dalam pembelajaran qawaid imla’ khususnya pada materi alamah tarqim/pungtuasi.
Pada artikel ini akan dijelaskan tentang alamah tarqim/pungtuasi yang lazimnya digunakan oleh para penulis Arab. Tanda baca yang akan dibahas nanti juga akan diperlihatkan simbol/lambang yang mewakilinya serta beberapa contoh kalimat yang disesuaikan dengan tanda baca yang digunakan.
B. Pembahasan
1.  Pengertian ‘Alamah Tarqim (Pungtuasi)
Alamah tarqim terdiri dari dua kata; alamat yang artinya tanda atau mark dan tarqim yang berarti numerasi dan pungtuasi. Alamah tarqim didefinisikan sebagai simbol-simbol yang digunakan oleh penulis dalam tulisannya sebagai tanda memulai, mengakhiri, menghubungkan satu kalimat dengan lainnya, dan membuat variasi intonasi sesuai tujuan atau isi kalimat yang ditekankan. Tanda baca biasanya diletakkan disela-sela kata dalam kalimat atau diakhir kalimat dan alinea.[9]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ‘ala>matu al-tarqi@m yaitu tanda baca atau simbol/lambang yang digunakan oleh seorang penulis dalam tulisannya sebagai tanda untuk memulai, mengakhiri dan menghubungkan satu kalimat yang lain serta membuat berbagai macam intonasi sesuai tujuan atau isi kalimat yang ingin disampaikan.
Dalam penulisan tulisan berbahasa Indonesia banyak menggunakan pungtuasi atau ‘ala>matu al-tarqi@m. Dalam penulisan bahasa arab secara umum pungtuasi digunakan pula oleh penulis Arab, ada beberapa pungtuasi dalam bahasa Arab. Berbagai macam ‘ala>matu al-tarqi@m atau pungtuasi dalam bahasa Arab ada pada pembahasan berikutnya.
2.  Macam-Macam ‘Alamah Tarqim (Pungtuasi)
Berikut adalah pungtuasi dan tempatnya dalam penulisan:
a.  Al-Nuqthah al-Waqfah (النقطة، الوقفة) / . /
Tanda baca nuqthah menggunakan lambang / . / biasa digunakan untuk berhenti dalam ucapan atau bacaan. Pembicara atau pembaca berhenti ketika berucap atau membaca dan dibolehkan ketika berhenti agak panjang. Tanda baca ini juga diletakkan di akhir kalimat yang maknanya telah jelas dan lengkap. Kalimat yang diakhiri dengan tanda baca titik terbebas dari kalimat sesudahnya dari segi makna dan i’rab. Contohnya seperti:
-    هناك اختلاف كثيرة بين اللتعليم في الماضي والتععليمم في الحاضر. ومن تلك الاختلافات، أن فرض التعليم كانت قليلة في الماضي[10]
-      الحكمة ضالة المؤمن. لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها[11]
b.  Al-Fa>shilah (الفاصلة) / ، /[12]
Al-fa>shilatu adalah sebuah tanda baca yang menggunakan lambang / ، /, biasa digunakan untuk berhenti sebentar dalam ucapan atau bacaan. Pembicara atau pembaca berhenti sangat sebentar ketika berucap atau membaca bahkan dianjurkan tanpa bernafas. Beberapa letak yang lazim terdapat tanda baca ini di antaranya:
1)   Tanda baca ini diletakan di antara kalimat-kalimat yang dianggap masih berkaitan makna. Contohnya seperti:
-    إمداد الريف بانور الكهربي يحقق فوائد كثيرة: فهو يساعد على حفظ الأمن، ويرفع مستوى المعيشة في القرى، ويشجع غلى إنشاء المصانع الريفة
-    إن الطالب خالد قد شفي من مرضة، ودخل الامتحان، وأجاب عن الأسئلة إجابة صحيحة، وله أمل كبير في النبحاح.
-     رأس الأمر الإسلام، وعموده الصلاة، وذروة سنامه الجهاد[13]
2)   Tanda baca ini diletakan di antara kata-kata yang berguna untuk menjelaskan macam atau bagian. Contohnya seperti:
-    ينقسم الكلام إلي ثلاثة أقسام : اسم, فعل, حرف
3)   Tanda baca ini diletakan di antara kalimat-kalimat sambung sederhana meski masing-masing kalimat sambung tersebut terdapat kata khusus. Contohnya:
-    المعروف قروض، والأيام دول
4)   Tanda baca ini diletakan di antara kalimat syarthiyyah dan jawabnya serta di antara kalimat sumpah (qasam) dan jawabnya. Contoh:
-    إذا حضر الماء، بطل التيمم
5)   Tanda baca ini diletakan di antara dua kalimat yang terikat dalam makna lafaz, kalimat kedua berisi penjelasan sifat atau keadaan atau keterangan tempat atau keterangan waktu. Contohnya seperti:
-    التقيت بصديقي محمد، وهو يبتسم
6)   Tanda baca ini diletakkan setelah kata panggil. Seperti pada contoh berikut ini:
-    يا عبد الله، تعلم بالجد والاجتهاد
c.  Al-Fa>shilatu al-Manqu>thah (الفاصلة المنقوطة) /؛/
Al-Fâsilatu al-Manqûtatu/ adalah sebuah tanda baca yang menggunakan lambang /؛/, biasa digunakan untuk berhenti dalam ucapan atau bacaan. Pembicara atau pembaca berhenti ketika berucap atau membaca dan dibolehkan ketika berhenti sambil bernafas.[14] Al-fa>shilatu al-manqu>thah digunakan atau diletakkan:[15]
1)   Dua kalimat, dimana kalimat pertama menjadi akibat dari kalimat kedua. Contohnya:
-    نجح عمر وحصل على أعلى التقديرات؛ لأنه لم يتهاون فلى حصور المحاضرات.
2)   Dua kalimat dimana kalimat kedua merupakan sebab bagi yang pertama, seperti:
-    يبذل محمد جهدا كبيرا في عمله؛ فلا غرابة أن يحظي عجاب رئيسه
3)   Beberapa kalimat panjang yang masing-masing terdiri dari kalimat sempurna, tujuannya adalah agar pembaca dapat mengambil napas di antara kalimat dan menghindari bias di antara kalimat itu, contohnya:
-    إن الناس لا ينظرون إلى الزمن الذي عمل فيه العمل؛ وإنما ينظرون إلى مقدار جودته وإتقانه

d.  Al-Nuqthata>ni(النقطتان)  / : /
Tanda baca al-nuqthata>ni ini memiliki lambang / : /. Tanda baca ini dituliskan pada beberapa tempat, di antaranya:[16]
1)   Dituliskan setelah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Contoh pada kalimat-kalimat di bawah ini:
-    حسن : يا إسماعيل من هي ؟
-    إسماعيل : هي سيدة أمنة.
2)   Dituliskan di akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian. Seperti:
-    الجزاء الجملة هي: اسم، وفعل، وحرف
3)   Dituliskan di akhir suatu pernyataan untuk menjelaskan kalimat sebelum tanda tersebut. Contoh:
-    المنهج هو: الطريق الواضحة، والخطة المرسومة
4)   Dituliskan di akhir kalimat untuk menjelaskan kaidah atau hukum, dan lain-lain. Contoh pada kalimat:
-    الترقيم: وضع رموز مخصصة أثناء الكتابة، بغرض تعيين مواضع الفصل والوقف والإبتداء، وأنواع النبرات الصوتية، والأغراض الكلامية أثناء القراءة
e.  ‘Ala>matu al-H{adzfi (علامة الحذف) / . . . /[17]
Tanda ini menunjukkan kalimat yang dibuang. Bagian kalimat yang dibuang bisa pada bagian awal atau bagian tengah atau bagian akhir  kalimat. Contoh penggunaan tanda baca ini pada awal dan akhir kalimat adalah seperi di bawah ini:
-    … ثم فحصة وقال له: إن الألم الذي تشعره سببه البرد، وسيزول إنشاء الله بعد أن تتناول الدواء الذي سأكتبه …
Adapun contoh penggunaan tanda baca ini di tengah kalimat, seperti:
-    لو اقتصر الناس على كتب القدماء لضاع علم كثير، ولذهب أدب غزير، ولضلت أفهام ثاقبة … ولمجّت الأسماع كل مردد مكرر.
f.   ‘Ala>matu al-Istifha>m (علامة الاستفهام) /؟/[18]
Tanda baca ‘ala>matu al-istifha>m memiliki lambang /؟/. Tanda baca ini lazimnya digunakan untuk kalimat tanya, baik kalimat tersebut diawali oleh kata tanya atau tidak. Contohnya:
-    هل ذاكرت دروسك؟
-    قال الله تعالى: ﴿فلما جنّ عليه الليل رأى كوكبا قال: هذا ربي؟﴾
g.  ‘Ala>matu al-Ta’ajjubi (علامة التعجب) /!/[19]
Tanda baca ini digunakan atau diletakkan setelahh kalimat yang mengandung arti seruan, kekaguman, keheranan, kegelisahan, larangan, peringatan, dan do’a. Contohnya:
-    ما أحسن خلق محمدا !
h.  ‘Ala>matu al-Tasawi علامة التساوي /=/
Tanda baca ini digunakan atau diletakkan di antara kata yang bersinonim, seperti:
-    جاسر= جوع و بكاء
i.   Al-Syarthata>n الشرطتان /- -/
Tanda baca ini digunakan atau diletakkan diantara kalimat sisipan. Contoh:
-    قررت الجنة الامتحا ـ بناء على ما تخوّله لها اللأئحة ـ تعريض الطلبة بدرجتين فقط في مادّتين .
j.   ‘Ala>mat al-Muma>tsalah علامة المماثلة /"/
Tanda baca al-muma>tsalah ini digunakan atau diletakkan untuk mengisyaratkan adanya kesamaan kata dengan kata-kata yang ada pada baris di atasnya. Contohnya:
-    أبو فراس الحمداني، شاعر عباسي، ، عرف بعشر الفروسية
-     المتنبي، "       "              "              "              "              "    "
k.  ‘Ala>mat Ma>ilah/ al-Syarthah al-Ma>ilah  علامة المائلة أو الشرطة مائلة / / /
Tanda baca ini digunakan atau diletakkan:
1)   Setelah penulisan gelar, sebutan, jabatan atau kedudukan seseorang. Contohnya:
-    الأستاذ الدكتور/ محمد أحمد سليم. أ. د . / ابن رواندي
2)   Diantara penyebutan tanggal, bulan dan tahun dalam bentuk angka, seperti:
-    جاكر، 06/06/78
l.   Al-Syarthah/al-Washlah (الشرطة أو الوصلة) / - /[20]
Al-Syarthah ini memiliki lambang /-/, biasanya tanda baca ini diletakkan:
1)   Diantara kata bilangan dan kata bendanya dan yang menunjukkan urutan jika diletakkan di awal baris. Contohnya:
أنواع الخير في اللغة العربية ثلاثة:
أولا- مفرد، نحو: الشمس طالعة.
ثانيا- جملة، نحو: الطلب خلقه حسن، وخالد يكتب الرسالة.
ثالثا- شبه جملة، نحو: الطالبة في المكتبة، و العصفور فوق الشجرة
2)   Setelah angka atau subbab tertentu, seperti:
يلتخص مما سبق أمور تتعلق لنية هي ما تي.
أ‌-      حقيقتها
ب‌-  حكمها
ج‌-   المقصود بها
د‌-     شرطها
ه‌-     محلها
و‌-    صفتها
3)   Sebagai kata ganti (قال) dalam suatu dialog, seperti:
التقى هشام بصديقة خالد، وقال له: كيف حالك؟
-    بخير والحمد لله.
-     متى عدت منسفرك؟
m.  Al-Qawsa>ni (القوسان) / ( ) /
Al-Qawsa>ni/ ini memiliki lambang “( )”. Tanda baca ini diletakkan di dalam kata penjelas dari kata sebelumnya yang tidak ada kaitannya dengan isi tulisan secara keseluruhan. Contohnya adalah:
مكة (شرفها الله ) مهوي أفئد المسلمين.
n.  Al-Nuqthata>ni al-Ufuqiyyata>n (النقطتان الافقيتان) [21]/ . ./
Tanda baca ini digunakan untukk menunjukkan adanya sejenak baik dalam prosa maupun puisi. Contoh:
ولما كان هذا ممكنا . . فقد قررنا أن نخوض التجربة
o.  Alamat al-Tanshi@sh al-Tadhbi@b (علامتا التنصيص أو التضبيب) /" "/
Tanda baca ini digunakan atau diletakkan:
1)   Diantara kutipan langsung sesuai dengan teks aslinya tanpa ada perubahan. Contohnya:
يرى طه حسين أن "الكثيرة المطلقة مما نسميه أد جاهليا ليس من الجاهلية في شيئ"
2)   Untuk mengapit judul buku atau kata tertentu, seperti:
هذا القول منقول بنصه من كتاب "في الأدب الجاهلي"
p.  Al-Qaus al-Mustaqi@m/al-Ma’qu>f (القوس المستقيم أو المعقوف) /[ ]/
Tanda baca ini digunakan atau diletakkan diantar kata atau kalimat yang ditambahkan kepada teks yang dikutip, seperti:
قال أبوو العلاء المعري: " هذا جناه أبي علي [مع أن الجناة كثيرون] وما جنيت على أحد"
q.  Al-Qusa>n al-Muzakhrafa>n (القوسان المزخرفان) /( )/
Tanda baca al-qaus al-mustaqi@m/al-ma’qu>f digunakan atau diletakkan:
1)   Diantara nama surat dan ayat al-Qur’an yang dikutip. Contohnya:
قل هو الله أحد. الله الصمد. لم يلد و لم يولد. ولم يكن له كفوا أحد. (سورة الإخلاص: 1-4)
2)   Untuk mengapit ayat yang dikutip dan diletakkan dalam teks, seperti:
وقد امتدح  تعالى المتطهرين، فقال: (إن  يجب التوابين ويجب المتطهرين)
r.   Al-Niqa>th al-Tsala>ts al-Mahshu>rah bi Qausin (النقاط الثلاث المحصورة بقوسين) /(…)/
Tanda baca al-niqa>th al-tsala>ts al-mahshu>rah bi qausin ini digunakan untuk menunjukkan bahwa ada sebagian kata dalam kalimat yang dikutip itu dibuang atau hilang (tidak jelas, misalnya dalam karya suntingan atau tahqiq sebuah manuskrip kuno) dengan alasan bahwa penulis tidak memandang penting penyebutan bagian yang hilang atau dihilangkan. Contohnya:
"وأهدي إليها مرة زجاجة من العطر الثمين، وكتب معها": زجاجة العطر، اذهبي إليها، وتعطري بمس يديها، وكونى رسالة قلبي لديها، وها أنذا أنثر القبلات على جوانبك (. . .)
3.  Problematika Mahasiswa Jurusan PBA Semester IV dalam Pembelajaran  Qawaid al-Imla’ (Alamah Tarqim)
Problematika adalah unit-unit dan pola-pola yang menunjukkan perbedaan struktur antar satu bahasa dengan bahasa yang lain. Problema dalam pembelajaran bahasa Arab merupakan suatu faktor yang bisa menghalangi dan memperlambat pelaksanaan proses belajar mengajar dalam bidang studi bahasa Arab.[22]
Secara garis besarnya problematika pengajaran bahasa Arab bagi peserta didik di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu: problematika linguistik dan problematika non linguistik.[23]
a.   Faktor Linguistik
1)  Sistem Tata Bunyi (Phonologi)
Sistem tata bunyi bahasa Arab disebut ilmu tajwid al-Qur’an, yaitu dengan mempelajari “makha>riju al-huru>f”.
2)  Tata Bahasa (Nahwu dan Sharaf)
Tata bahasa dalam bahasa Arab disebut ilmu nahwu dan sharaf, sangat penting perannya jika ingin memahami tulisan yang berbahasa Arab.
3)  Perbendaharaan Kata (Mufradat/Vocabulary)
Perbendaharaan kata dalam bahasa Arab banyak diperoleh dengan cara mencari pemecahannya (musytaqqa>t), yang hal ini jarang dijumpai dalam bahasa ibu/Nasional.
4)  Susunan Kata (Uslub)
Susunan kata antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia adalah berbeda dalam peletakan subyek, predukat, dan obyek.
5)  Tulisan (Imla’)
Tulisan bahasa Arab dari kanan ke kiri, itulah yang membedakan bahasa Arab dengan bahasa lain sekaligus sebagai problem linguistik yang perlu solusinya.
Dalam artikel ini, penulis memfokuskan problematika mahasiswa jurusan PBA semester IV dalam pembelajaran qawaid imla’ yaitu tentang ‘alamah tarqim. 
b.  Faktor Non Linguistik
Adapun faktor non linguistik adalah problematika yang muncul diluar zat bahasa itu sendiri, hal ini bisa dilihat dari beberapa unsur, diantaranya:
1)   Guru atau pengajar yang kurang memiliki kompetensi sebagai pengajar bahasa Arab, baik kompetensi pedagogik, professional, personal atau sosial.
2)   Peserta didik atau mahasiswa yang tidak mempunyai motivasi kuat dalam pembelajaran bahasa Arab, latar belakang peserta didik atau mahasiswa dalam pemahaman bahasa Arab.
3)   Materi ajar yang kurang relevan lagi dengan kebutuhan yang ada bagi peserta didik atau mahasiswa.
4)   Sarana dan prasarana yang kurang memadai dan mendukung dalam proses pembelajaran bahasa Arab.[24]
Untuk mengetahui problematika Mahasiswa Jurusan PBA Semester IV dalam Pembelajaran  Qawaid al-Imla’ (Alamah Tarqim), penulis mencoba untuk memberikan tes tertulis kepada beberapa perwakilan mahasiswa semester IV. Dari hasil tes tertulis tersebut, penulis menemukan beberapa kesalahan mahasiswa dalam menempatkan alamah tarqim/tanda baca dengan tepat.
Adapun rincian hasil tes tertulis tersebut sebagai berikut:
No.
Kesalahan
Koreksi
1.     
العمل نعمة من نعم الله.  ولا يعرف …..
العمل نعمة من نعم الله،  ولا يعرف …..
2.     
ولا يعرف هذه النعمة إلا من فقدها بسبب مرض أو غيره، ومع ذلك. …….
ولا يعرف هذه النعمة، إلا من فقدها بسبب مرض، أو غيره. ومع ذلك …..
3.     
قال الرسول ﷺ : ما أكل أحد طعاما قط خير من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود كان يأكل من عمل يده،
قال الرسول ﷺ : "ما أكل أحد طعاما قط خير من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود كان يأكل من عمل يده"
4.     
وقال لأصحابه؛ من يشتري هذين فقام رجل،
وقال لأصحابه: من يشتري هذين؟ فقام رجل،
5.     
فقال من يزد على درهم، فقام رجل آخر.
فقال: من يزد على درهم؟ فقام رجل آخر،
Kesalahan yang pertama adalah setelah kalimat من نعم الله menggunakan tanda baca al-nuqthah (.), akan tetapi tanda baca yang lebih tepatt digunakan setelah kalimat tersebut adalah tanda baca al-fa>shilah (،). Karena kalimat tersebut masih dianggap berkaitan makna dengan kalimat-kalimat berikutnya. Hal ini berdasarkan pada bahasan ‘ala>matu al-fashilah bahwa tanda baca ini diletakkan diantara kalimat-kalimat yang dianggap berkaitan makan.
Kesalahan berikutnya masih serupa dengan kesalahan yang pertama yaitu perihal penempatan tanda baca al-fa>shilah dalam kalimat. Selain itu, setelah kata أو غيره tanda baca yang tepat digunakan adalah al-nuqthah (.). Karena kata أو غيره merupakan bagian akhir dari kalimat yang sempurna sebelumnya. Hal ini berdasarkan pada bahasan ‘ala>matu al-nuqthah.
Setalah tanda baca al-nuqthata>ni (:) dan setelah kalimat terakhir yaitu  من عمل يده lebih tepatnya diletakkan tanda kutip atau tanda baca al-tanshi@sh al-tadhbi@b (“ “). Karena kalimat tersebut merupakan kalimat Rasulullah saw. yang dikutip langsung dengan teks aslinya tanpa ada perubahan. Hal ini berdasarkan pada bahasan penggunaan/peletakkan‘ala>matu al-tanshi@sh al-tadhbi@b.
Kesalahan berikutnya yaitu setelah kata من يشتري هذين lebih tepatnya menggunakan tanda tanya (؟) atau ‘ala>matu al-istifha>m. Karena kalimat tersebut diawali oleh kata tanya yaitu من. Hal ini berdasarkan bahasan‘ala>matu al-istifha>m bahwa tanda baca tersebut digunakan untuk kalimat tanya, baik kalimat tersebut diawali oleh kata tanya atau tidak.
Dari beberapa kesalahan dan hasil data pendukung lainnya mengenai permasalahan dalam artikel ini, dapat disimpulkan bahwa problematika mahasiswa jurusan PBA semester IV IAIN Sultan Amai Gorontalo dalam pembelajaran qawaid imla’ khususnya ‘alamah tarqim atau pungtuasi adalah dari segi latar belakang mahasiswa itu sendiri dalam memahami pembelajaran tersebut, materi yang diajarkan hanya berkisar tentang al-khat, dan kesalahan dalam meletakkan atau menggunakan ‘alamah tarqim dalam suatu kalimat dengan kurang tepat, seperti (.), (،), (؟), (:) dan lain-lain.
C. Kesimpulan
1.    ‘Alamah tarqim atau pungtuasi adalah tanda atau simbol yang digunakan dalam bahasa Arab untuk memulai, mengakhiri dan menghubungkan satu kalimat yang lain serta membuat berbagai macam intonasi sesuai tujuan atau isi kalimat yang ingin disampaikan.
2.    Macam-macam ‘alamah tarqim atau pungtuasi dalam bahasa Arab terdiri dari kurang lebih delapan belas macam. Setiap ‘alamah tarqim  tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda dan model tanda baca yang bervariasi.
3.    Problematika mahasiswa jurusan PBA semester IV IAIN Sultan Amai Gorontalo dalam pembelajaran qawaid imla’ khususnya ‘alamah tarqim atau pungtuasi yaitu dari faktor non linguistik (mahasiswa itu sendiri, materi yang diajarkan), dan faktor linguistik (penggunaan atau peletakkan ‘alamah tarqim dalam suatu kalimat yang kurang tepat seperti (.), (،), (؟), (:), dan lain-lain).

D. Daftar Pustaka
al-Mubarokah, Zakiyatunnisa. “Pembelajaran Maharah al-Qira’ah wa al-Kitabah”. Tesis, Yogyakarta (2016).
Choiril Wafa, Ahris. “Problematika Pembelajaran Maharoh al-Kitabah Siswa Kelas X MAN Tempel Sleman Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014”. Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, (2014).
Hastang, Hastang. "Upaya Optimalisasi Maharah Kitabah Melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek pada Materi al-Jumlah." Didaktika: Jurnal Kependidikan 12.1 (2019).
Hidayat, Nandang Sarip. "Problematika Pembelajaran Bahasa Arab." An-Nida' 37.1 (2012).
Hula, Ibnu Rawandhy N. Qawaid al-Imla wa al-Khat: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. “Strategi Pembelajaran Bahasa. Cet. IV; Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2013.
Jauhari, H. Qomi Akit. "Pembelajaran Qowaid al-Imlak di Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang." Prosiding Konfererensi Nasional Bahasa Arab 1.1 (2015).
Munjiah, Ma'rifatul. "Kaidah-Kaidah Imla': Teori dan Praktik." (2012).
Raharja, Hatta. "Tanda Baca Dalam Bahasa Arab." Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) 2.2 (2014).
Rahmi, Novita. "Pengembangan Materi Qawa’id Imla’Sebagai Penunjang Mata Kuliah Kitabah I (Studi pada Mahasiswa Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah IAIN Metro)." An Nabighoh: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Arab 20.01 (2018).


[1]Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, “Strategi Pembelajaran Bahasa, (Cet. IV; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), h. 222.
[2]Zakiyatunnisa al-Mubarokah, “Pembelajaran Maharah al-Qira’ah wa al-Kitabah”, (Tesis, Yogyakarta, 2016), h. 2.
[3]Hastang, "Upaya Optimalisasi Maharah Kitabah Melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek pada Materi al-Jumlah", (Didaktika: Jurnal Kependidikan, Vol. 12 (1), 2019), h. 63.
[4]Novita Rahmi, “Pengembangan Materi Qawa’id al Imla’ Sebagai Penunjang Mata Kuliah Kitabah I (Studi pada Mahasiswa Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah IAIN Metro)”, (Jurnal an-Nabighoh, Vol.  20 (01), 2018), h. 2.
[5]H. Qomi Akit Jauhari, “Pembelajaran Qowaid al-Imlak di Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang”, (Prosiding Konfererensi Nasional Bahasa Arab, (1), 1, 2015), h. 323.
[6]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”, (Jurnal Alfaz, Vol. 2 (1), Januari-Juni 2014), hal. 170.
[7]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”, hal. 171.
[8]Ma’rifah Munjiah, “Kaidah-Kaidah Imla’ Teori & Praktik, (Malang: UIN-Maling Press, 2012), h. 154.
[9]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, (Cet. I; Gorontalo: Sultan Amai Press, Agustus 2015), h. 52-53.
[10]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”, h. 174.
[11]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 55.
[12]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”, h. 171-172.
[13]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 56.
[14]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”, h. 173.
[15]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 57.
[16]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”, h. 174-175.
[17]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”, h. 179-180.
[18]Hatta Raharja, “Tanda Baca dalam Bahasa Arab”, h. 181.
[19]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 59.
[20]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 58.
[21]Ibnu Rawandhy N. Hula, “Qawaid al-Imla’ wa al-Khat Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Arab dan Seni Kaligrafi”, h. 60-62.
[22]Nandang Sarip Hidayat, “Problematika Pembelajaran Bahasa Arab”, (Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 37 (1), Januari-Juni 2012), h. 84.
[23]Ahris Choiril Wafa, “Problematika Pembelajaran Maharoh al-Kitabah Siswa Kelas X MAN Tempel Sleman Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014”, (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014), h. 9-12.
[24]Nandang Sarip Hidayat, “Problematika Pembelajaran Bahasa Arab”, h. 87.